Saturday, 5 December 2015

BIMBINGAN KONSELING DI RUMAH SAKIT

BK DI LEMBAGA KEMASYARAKATAN
RUMAH SAKIT
oleh Yulia Annisa
A.    PENDAHULUAN
            Rumah sakit merupakan suatu instansi yang berfungsi memberikan pelayanan bagi orang sakit dan keluarganya. Pelayanan pendidikan kesehatan dan bimbingan konseling merupakan alternative utama untuk menghadapi permasalahan yang dialami oleh pasien.
            Pelaksanaan bimbingan konseling tidak hanya diaksanakan di sekolah, tapi jugadi luar sekolah sebagai mana yang dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti bahwa warga masyarakat yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya mereka yang berada di lingkungan sekolah atau pendidikan formal[1], warga di lingkunganmasyarakatpun banyak yang mengalami masalah yang perlu dientaskan dan kalau mungkin timbulnya masalah tersebut dapat dicegah, termasuk warga masyarakat di lingkungan Rumah Sakit semuanya tidak terhindar dari kemungkinanmasalah. Oleh karena itu disana diperlukan Bimbingan Konseling.

B.     BK DI INSTITUSI  RUMAH SAKIT
1.      PROFIL INSTITUSI RUMAH SAKIT
                        Rumah Sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang             pelayanannya disediakan oleh dokterperawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya.            Istilah hospital (rumah sakit) berasal dari kata Latinhospes (tuan rumah),         yang juga         menjadi akar kata hotel dan hospitality (keramahan). Beberapa pasien bisa       hanya datang untuk diagnosis atau terapi ringan untuk kemudian meminta perawatan        jalan, atau bisa pula meminta rawat inap dalam hitungan hari, minggu, atau bulan.       Rumah sakit dibedakan dari institusi kesehatan lain dari kemampuannya memberikan        diagnosa dan perawatan medis secara menyeluruh kepada pasien.
                        Rumahsakit menurut WHO Expert Committee On Organization Of Medical          Care: is an integral part of social and medical organization, the function of which is to provide for the population complete health care, both curative and preventive and       whose out patient service reach out to the family and its home environment; the       hospital is also a centre for the training of health workers and for biosocial research[2]
                                Rumah sakit adalah suatu institusi penyelenggara pelayanan kesehatan yang merupakan                 bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kuratif maupun            preventif serta menyelenggarakan pelayanan rawat jalan dan rawat inap juga perawatan di       rumah, ini seiring dengan yang tertuang dalam Undang-Undang nomor 44 tahun 2009       tentang rumah sakit, yaitu pelayanan kesehatan paripurna adalan pelayanan kesehatan yang melipti              promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, serta sebagai pusat rujukan kesehatan masyarakat[3]

                        Sumber daya manusia yang dimiliki rumah sakit yang terdiri dari, tenaga    medis, keperawatan, kefarmasian, kesehatan masyarakat, gizi, keterapian fisik dan           tenaga keteknisan ( PP 32 Tenaga Kesehatan, 1996) merupakan sumber daya utama            yang tanpanya, aktivitas utama rumah sakit (pelayanan kesehatan) tidak dapat   berjalan. Tenaga keperawatan merupakan sumber daya manusia yang memiliki        kuantitas paling banyak di setiap rumah sakit dan berperan besar dalam proses   pelayanan kesehatan yang bersentuhan langsung dengan pasien secara kontinu dan      sistematik.[4]
            Berikut merupakan tugas sekaligus fungsi dari rumah sakit, yaitu :
1.       Melaksanakan pelayanan medis, pelayanan penunjang medis,
2.       Melaksanakan pelayanan medis tambahan, pelayanan penunjang medis tambahan,
3.       Melaksanakan pelayanan kedokteran kehakiman,
4.       Melaksanakan pelayanan medis khusus,
5.       Melaksanakan pelayanan rujukan kesehatan,
6.       Melaksanakan pelayanan kedokteran gigi,
7.       Melaksanakan pelayanan kedokteran sosial,
8.       Melaksanakan pelayanan penyuluhan kesehatan,
9.       Melaksanakan pelayanan rawat jalan atau rawat darurat dan rawat tinggal (observasi),
10.    Melaksanakan pelayanan rawat inap,
11.    Melaksanakan pelayanan administratif,
12.    Melaksanakan pendidikan para medis,
13.    Membantu pendidikan tenaga medis umum,
14.    Membantu pendidikan tenaga medis spesialis,
15.    Membantu penelitian dan pengembangan kesehatan,
16.    Membantu kegiatan penyelidikan epidemiologi,
                        Tugas dan fungsi ini berhubungan dengan kelas dan type rumah sakit yang di         Indonesia terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus, kelas a, b, c, d.       berbentuk badan dan sebagai unit pelaksana teknis daerah. perubahan kelas rumah            sakit dapat saja terjadii sehubungan dengan turunnya kinerja rumah sakit yang        ditetapkan oleh menteri kesehatan indonesia melalui keputusan dirjen yan medik.
            Jenis-jenis rumah sakit, diantaranya :
1.      Rumah sakit umum
Rumah sakit yang sangat besar sering disebut Medical Center (pusat           kesehatan), biasanya melayani seluruh pengobatan modern. Sebagian besar rumah      sakit di Indonesia juga membuka pelayanan kesehatan tanpa menginap (rawat jalan)          bagi masyarakat umum (klinik). Biasanya terdapat beberapa klinik/poliklinik di dalam         suatu rumah sakit.
2.       Rumah sakit terspesialisasi
Jenis ini mencakup trauma centerrumah sakit anak, rumah sakit manula, atau rumah sakit yang melayani kepentingan khusus sepertipsychiatric (psychiatric hospital), penyakit pernapasan, dan lain-lain. Rumah sakit bisa terdiri atas gabungan    atau pun hanya satu bangunan. Kebanyakan mempunyai afiliasi dengan universitas            atau pusat riset medis tertentu.
3.      Rumah sakit penelitian/pendidikan
Rumah sakit penelitian/pendidikan adalah rumah sakit umum yang terkait dengan kegiatan penelitian dan pendidikan di fakultas kedokteran pada suatu universitas/lembaga pendidikan tinggi. Biasanya rumah sakit ini dipakai untuk pelatihan dokter-dokter muda, uji coba berbagai macam obat baru atau teknik pengobatan baru. Rumah sakit ini diselenggarakan oleh pihak universitas/perguruan      tinggi sebagai salah satu wujud pengabdian masyararakat / Tri Dharma perguruan       tinggi.
4.      Rumah sakit lembaga/perusahaan
Rumah sakit yang didirikan oleh suatu lembaga/perusahaan untuk   melayani pasien-pasien yang merupakan anggota lembaga tersebut/karyawan perusahaan tersebut. (misalnya rumah sakit militer, lapangan udara), bentuk jaminan sosial/pengobatan gratis bagi karyawan, atau karena letak/lokasi perusahaan yang terpencil/jauh dari rumah sakit umum. Biasanya rumah sakit lembaga/perusahaan di Indonesia juga menerima pasien umum dan menyediakan           ruang gawat darurat untuk masyarakat umum.
5.       Klinik
Fasilitas medis yang lebih kecil yang hanya melayani keluhan tertentu. Biasanya dijalankan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat atau dokter-dokter yang ingin menjalankan praktek pribadi. Klinik biasanya hanya menerima rawat jalan. Bentuknya bisa pula berupa kumpulan klinik yang disebut poliklinik.
2.      KARAKTERISTIK WARGA RUMAH SAKIT
a.       Perawat
1.      Sosial budaya
                  Berdasarkan wawancara dengan manajer rawat inap RSUD Ambarawa tahun 2012 masih terdapat perawat yang mempunyai sikap kurang tanggap terhadap pelanggan sehingga dikomplain oleh pelanggan. [5]
                  Hal ini dikarenakan kurangnya budaya interaksi yang ramah dan terbuka antara pasien dan perawat, sebagian perawat kurang mendengarkan keluhan pasien, hal ini dikarenakan perawat yang terbebani tugas dalam melayani pasien dan hanya fokus terhadap pekerjaannya  dan kurang menjalin sosialisasi dan komunikasi antara pasien dan keluarga pasien.
                  Penerapan budaya organisasi di Rumah Sakit dapat dilihat berdasarkan indikator sikap mendengarkan komplain pasien dan menyampaikan penjelasan atas komplain yang disampaikan oleh pasien, merespon ketidakpuasan pasien dan berusaha memberikan pelayanan sesuai dengan harapan pasien, sikap perawat masih belum semua mengucapkan salam terhadap pasien, tidak segera memberikan bantuan kepada pasien, tidak berpartisipasi dalam menjaga kebersihan, tidak sepenuh hati perawat tidak tenang menanggapi komplain dari pasien. Penerapan budaya organisasi dalam keperawatan yang kuat didapatkan hanya 52,5%, artinya bahwa secara umum penerapan budaya organisasi di RSUD Ambarwa menggambarkan keadaan sosial budaya di seluruh rumah sakit secara umum yang sosial dan budaya organisasi nya masih lemah.
2.      Psikologis
                  Posisi tenaga keperawatan juga menjadi penting sebagai tangan kanan Dokter yang menentukan keberhasilan kerja (saran/rujukan/arahan) sang Dokter. Oleh karena itu perawat dituntut untuk memberi pelayanan dengan mutu yang baik. Untuk itu dibutuhkan kecekatan dan keterampilan serta kesiagaan setiap saat dari seorang perawat dalam menangani pasien, kondisi ini akan membuat seorang perawat akan lebih mudah mengalami stres. Nursalam (2002) mengatakan, beban kerja yang sering dilakukan oleh perawat bersifat fisik seperti mengangkat pasien, mendorong peralatan kesehatan, merapikan tempat tidur pasien, mendorong brankart dan yang bersifat mental yaitu kompleksitas pekerjaan misalnya keterampilan, tanggung jawab terhadap kesembuhan, mengurus keluarga serta harus menjalin komunikasi dengan pasien. Pelayanan kesehatan yang kontinu dan sistematik serta peran dan tuntutan yang banyak inilah yang sering memunculkan kondisi yang dapat memicu terjadinya stres kerja pada perawat.
                  Stres dapat ditimbulkan dari semakin banyaknya tantangan yang dihadapi seperti lingkungan kerja, karakteristik persaingan yang semakin tinggi, tidak dapat memanfaatkan waktu secara maksimal, faktor-faktor yang tidak terkontrol, tidak cukupnya ruang untuk bekerja, perkembangan teknologi informasi yang terus menerus, tuntutan permintaan yang berlebihan
                  Menurut Persatuan Perawat Nasional (PPNI, 2006) sebanyak 50,9% perawat Indonesia yang bekerja mengalami stres kerja, sering merasa pusing, lelah, kurang ramah, kurang istirahat akibat beban kerja terlalu tinggi serta penghasilan yang tidak memadai. Sementara itu, Frasser (1997) menjelaskan bahwa 74% perawat mengalami kejadian stres yang mana sumber utamanya adalah lingkungan kerja yang menuntut kekuatan fisik dan keterampilan.[6]


3.      Ekonomi
                  Ekonomi dalam kesehatan menjadi dasar yang tidak dapat terpisahkan, baik dari faktor individu, lingkungan, keluarga maupun dari keperawatan itu sendiri. Proses keperawatan dikatakan profesional jika asuhan keperawatan yang di berikan efektif dan efisien. Efektif berarti asuhan keperawatan dapat menyelesaikan masalah kesehatan klien. Efisien berarti biaya perawatan klien proporsional dalam arti sesuai kebutuhan klien akan pelayanan kesehatan, sebagian  Para perawat akan memberikan pelayanan yang optimal jika sebanding dengan upah yang didapatkannya.

4.      Spiritual Agama
                  Perawat berupaya untuk membantu memenuhi kebutuhan spiritual pasien sebagai bagian dari kebutuhan menyeluruh pasien, antara lain dgn memfasilitasi pemenuhan kebutuhan spiritual pasien tsb, walaupun perawat dan pasien mempunyai keyakinan spiritual atau keagamaan yg berbeda.

b.      Pasien dan keluarga pasien
1.      Sosial budaya
                  Pasien di rumah sakit terdiri dari berbagai latar kehidupan sosial dan budaya yang berbeda, inilah yang menyebab kan perbedaan persepsi pada pelayanan kesehatan yang didapatkan oleh para pasien.
                  Kebudayaan di Indonesia, beranggapan bahwa menjadi pasien adalah hal yang tidak mengenakkan, karena harus mengeluarkan biaya mahal, bahkan mendapat bantuan pun masih mengeluarkan biaya, karena bantuan yang diberikan tidak 100% meringankan beban pasien. Sedangkan Kebudayaan  Orang luar negeri yang beranggapan bahwa menjadi pasien adalah: 1.Sebagai hal yang mengenakkan, karena sambil dirawat ia dapat makan teratur, sebagai tempat rekreasi, dan biaya dibayar oleh asuransi. 2.
Persepsi tentang sehat dan sakit yang dapat dikontrol oleh perawat jika ia dirawat di rumah sakit. [7]
                  Dari segi sosialnya para pasien dan keluarganya di indonesia kurang  mendapatkan keramahan,  karena faktor-faktor yang telah dibahas diatas, kurangnya sosialisasi antara pasien, keluarga pasien dengan tenaga medis, padahal pasien dan keluarganya  memiliki hak untuk di perhatikan dan dilayani  dengan keramahan. Pasien dg peran sosial nyata, adalah sebagai tamu yang menjadi tergantung pada staf medis untuk kehidupannya,             Pasien adalah asing bagi komunitas RS, tidak biasa dg struktur, prosedur, dan istilah RS, sehingga kondisi ini sering membuat seseorang merasa tidak mudah dalam situasi yg mengecewakan.
                  Sebagai keluarga pasien harus bisa menyesuikan dirinya dengan peraturan dan tata cara pelayanan yang telah dibuat oleh rumah sakit itu sendiri, terkadang hal ini menjadi kendala dalam kepengurusan administrasi, ketika keluarga pasien belum memahami sosial dan budaya yang diterapkan oleh rumah sakit tersebut.
                  Disamping itu keluarga pasien juga berhak mendapatkan pelayanan dengan budaya yang ramah dari pihak rumah sakit. Interaksi dan komunikasi yang baik antara pihak rumah sakit dengan keluarga pasien akan menumbuhkan kepercayaan keluarga pasien terhadap pihak rumah sakit.

2.        Psikologis
                 Pasien dan keluarga pasien mengharapkan pelayanan rumah sakit sesuai dengan penyakit yang dideritanya. Kondisi ini akan diperparah jika pasien dan keluarganya kurang mendapatakan pelayanan yang ramah, informasi yang kurang jelas, arah perawatan yang tidak jelas (grey area), sehingga pasien dan keluarga juga akan mengalami stres. [8]Kondisi psikologis ini sangat dirasakan bagi orang sakit dan keluarganya bila mereka tidak mendapatkan konselor yang mampu memberikan informasi sesuai kondisi psikologis yang dialaminya, pasien dan keluarganya akan mengalami katarsis yang akan memperburuk kondisi pasien [9]
                 Pasien bukan saja menderita kerugian sakit fisik, tapi juga di bawah tekanan psikologis yang besar. Sebagian besar orang yang sedang sakit akan mengalami timbulnya goncangan mental dan jiwanya srta kecemasan  karena penyakit yang dideritanya. Suatu penelitian di barat mengungkap bahwa penyebab sakit 70% adalah masalah psikologis. Ini menunjukkan bahwa sakit fisik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan psikologis pasien. Kondisi ini akan lebih berat jika pasien tidak mendapat dukungan dari keluarga.
                 Stres pada  keluarga pasien  umumnya juga disebabkan karena kecemasan dan ketidaktahuan tentang kondisi penyakit yang diderita oleh anggota keluarganya, Saat seseorang anggota keluarganya masuk rumah sakit, bukan hanya pasien yang merasa tertekan, tapi juga seluruh anggota keluarga. Untuk itu, pihak keluarga juga harus mendapat informasi yang benar seputar penyakit yang diderita oleh pasien.
                 Dukungan psikologi yang baik dari pihak keluarga dan tenaga medis, akan mempercepat sembuhnya penyakit si pasien. Pasien juga merasa nyaman, dia merasa didukung dan itu bagus untuk masa penyembuhan. Kalau pasien diperlakukan dengan cuek, pasti pasien stress setiap hari merasa tidak betah dan efeknya membuat penyakit tak kunjung sembuh.

3.      Ekonomi
                  Pasien dan keluarganya yang ada dirumah sakit juga terdiri dari berbagai tingkat ekonomi, mulai dari kelas ekonomi yang paling bawah, menengah hingga menengah keatas. Pelayanan kesehatan tergantung pada tingkat ekonomi pasien, perbedaan pelayanan rumah sakit dapat dilihat dari jenis asuransi kesehatan yang digunakan oleh pasien, pelayanan terhadap pasien umum biasanya berbeda dengan pelayanan kepada pasien yang menggunakn asuransi seperti jamsostek, BPJS, dll. Pasien umum lebih diutamakan, dan pelayanan pada keluarga pasien umum pun lebih ramah. mereka dilayani lebih ramah dan lebih ekstra dibandingkan dengan pasien yang menggunakan jasa asuransi kesehatan. Ini sudah menjadi rahasia umum jika hal yang demikian itu terjadi pada diri pasien dan keluarganya. Permasalahan ekonomi yang seperti ini juga akan berpengaruh pada psikologis pasien dan keluarganya serta berdampak pada tingkat kesembuhan pasien.[10]
4.      Agama
                  Apabila seseorang dalam keadaan sakit, maka hubungan dengan Tuhannya pun semakin dekat, dan ada juga pasien atau keluarganya yang merasa bahwa penyakit yang dideritanya adalah karena ketidak-adilan tuhan terhadap dirinya atau pada anggota keluarganya, hingga ia jauh dari tuhannya. Mengingat seseorang dalam kondisi sakit menjadi lemah dalam segala hal, tidak ada yang mampu membangkitkannya dari kesembuhan, kecuali Sang Pencipta.
                  Pasien dan keluarganya memiliki hak untuk menjalankan ibadhnya sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya pada saat ia berada dirumah sakit. Pasien dan keluarganya dirumah sakit membutuhkan bimbingan spiritual keagamaan, dan ternyata berdampak kepada peningkatan kesembuhan dan motivasi pasien, bagi keluarga pasien ketenangan dan kesejukan hati dengan dorongan dan motivasi  untuk  tetap bersabar, bertawakkal dan senantiasa menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah.[11]

3.      MASALAH UTAMA DALAM INSTITUSI RUMAH SAKIT
                                    Masalah manajemen atau pelayanan di rumah sakit pada akhir-akhir ini         memang banyak menjadi bahan pembahasan baik di lingkungan masyarakat. Terutama           pelayanan administrasi terhadap pasien yang menggunakan program layanan kesehatan          gratis atau layanan kesehatan dari pemerintah seperti Jamkesmas, Askes, maupun            Jamkesda. Sering sekali masyarakat yang menggunakan fasilitas ini mengalami kesulitan             dalam memenuhi berbagai persyaratan agar dapat memperoleh layanan kesehatan yang        diinginkan.
                        Perbedaan pelayanan kesehatan bagi pasien dan keluarga pasien menjadi maslah      utama di institusi rumah sakit, pihak rumah sakit sering kali membedakan pelayanan    kesehatan terhadap pasiennya, hal ini menimbulkan masalah baru bagi pasien dan    keluarga pasien, yaitu rasa ketidak puasan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, hak        pasien dankeluarganya seringkali terabaikan meskipun mereka telah menjalankan             kewajibannya. Masalah lain yang timbul adalah kecemasan dan ketidak nyaman pasien        dan keluarga pasien saat mendapatkan pelayanan kesehatan, yang berdampak pada          psikologis pasien dan keluarganya.

C.     PENUTUP
1.      Kesimpulan
                  Rumah sakit merupakan suatu instansi yang berfungsi memberikan pelayanan bagi orang sakit dan keluarganya. Rumah Sakit merupakan sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang       pelayanan nya disediakan oleh dokterperawat, dan tenaga ahli kesehatan lainnya, termasuk tenaga konselor.
                   Lingkungan Rumah sakit juga tidak terlepas berbagai pemasalahan yang memerlukan penyelesaian dalam pengentasan dari jasa seorang konselor, Mulai dari malah pelayanan administrasi, informasi, hingga masalah kondisi psikologis, dan spiritual pasien dankeluarganya yang membutuhkan Bimbingan Konseling.
2.      Saran
                  Penulis menyadari bahwa makalah yang saya buat ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saya sebagai penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.











DAFTAR KEPUSTAKAAN

Amril, (2001) Studi Kebutuhan Layanan Informasi bagi  Pasien akan di Operasi di RSUD             Pariaman, skripsi , Padang :FIP UNP
Anitawidanti, Hafni. (2010) Skripsi: Analisis Hubungan Antara Stres Kerja dengan           Kepuasan Kerja Karyawan Berrdasarkan Gender:Studi Pada PT Trasindo Surya     Sarana. Semarang : Universitas Diponegoro.
http://eprints.undip.ac.id/22995/1/skripsistreskerjavskepuasankerja.pdf http://www.slideshare.net/FitriaAnwarawati/penerapan-sosial-budaya-dalam-rumah-sakit
http://www.kompasiana.com
Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 7-14
Muhiman muhardi, (1989), Anestesiologi, Jakarta : bagian Anestesiologi dan Terapi intensif          FKUI
PP 32 Tenaga Kesehatan, 1996
Prayitno dan Erman Amti.(1994) Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling,  Jakarta; Dirjen Dikti Depdikbud
Salim. Samsudin,(2005) Bimbingan Rohani Pasien Upaya Mensinergisitaskan Layanan  Medis dan  Spiritual  di  Rumah  Sakit,  Semarang
Undang-Undang nomor 44 tahun 2009


[1] Prayitno dan Erman Amti. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.1994,  Jakarta; Dirjen Dikti Depdikbud, hal. 251
[2] http://rsud.cianjurkab.go.id/?page_id=65
[3] Undang-Undang nomor 44 tahun 2009
[4] PP 32 Tenaga Kesehatan, 1996
[5] Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 1, Mei 2013; 7-14
[6] Anitawidanti, Hafni. (2010) Skripsi: Analisis Hubungan Antara Stres Kerja dengan Kepuasan Kerja Karyawan Berrdasarkan Gender:Studi Pada PT Trasindo Surya Sarana. Semarang : Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/22995/1/skripsistreskerjavskepuasankerja.pdf Diakses 28 Februari 2009 pukul 22:38 WITA

[7] http://www.slideshare.net/FitriaAnwarawati/penerapan-sosial-budaya-dalam-rumah-sakit
[8] Amril, Studi Kebutuhan Layanan Informasi bagi  Pasien akan di Operasi di RSUD Pariaman, skripsi , 2001 Padang :FIP UNP, , hal  1
[9] Muhiman muhardi, Anestesiologi, Jakarta : bagian Anestesiologi dan Terapi intensif FKUI, 1989. Hal  34
[10] http://www.kompasiana.com
[11] Salim. Samsudin,. Bimbingan Rohani Pasien Upaya Mensinergisitaskan Layanan  Medis dan  Spiritual  di  Rumah  Sakit,  Semarang: 2005. Hlm. 1.