BK DI
LEMBAGA KEMASYARAKATAN
RUMAH
SAKIT
oleh Yulia Annisa
A.
PENDAHULUAN
Rumah sakit merupakan suatu instansi
yang berfungsi memberikan pelayanan bagi orang sakit dan keluarganya. Pelayanan
pendidikan kesehatan dan bimbingan konseling merupakan alternative utama untuk
menghadapi permasalahan yang dialami oleh pasien.
Pelaksanaan bimbingan konseling
tidak hanya diaksanakan di sekolah, tapi jugadi luar sekolah sebagai mana yang
dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti bahwa warga masyarakat yang memerlukan
pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya mereka yang berada di lingkungan
sekolah atau pendidikan formal[1],
warga di lingkunganmasyarakatpun banyak yang mengalami masalah yang perlu
dientaskan dan kalau mungkin timbulnya masalah tersebut dapat dicegah, termasuk
warga masyarakat di lingkungan Rumah Sakit semuanya tidak terhindar dari
kemungkinanmasalah. Oleh karena itu disana diperlukan Bimbingan Konseling.
B.
BK DI INSTITUSI
RUMAH SAKIT
1.
PROFIL INSTITUSI RUMAH SAKIT
Rumah Sakit adalah sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanannya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli
kesehatan lainnya. Istilah hospital (rumah
sakit) berasal dari kata Latin, hospes
(tuan rumah), yang juga menjadi akar kata hotel dan hospitality (keramahan). Beberapa pasien bisa hanya datang untuk diagnosis atau terapi
ringan untuk kemudian meminta perawatan jalan,
atau bisa pula meminta rawat inap dalam hitungan hari, minggu, atau bulan. Rumah sakit dibedakan dari institusi
kesehatan lain dari kemampuannya memberikan diagnosa
dan perawatan medis secara menyeluruh kepada pasien.
Rumahsakit menurut WHO Expert Committee On
Organization Of Medical Care: is
an integral part of social and medical organization, the function of which is
to provide for the population complete
health care, both curative and preventive and whose
out patient service reach out to the family and its home environment; the hospital is also a centre for the training
of health workers and for biosocial research[2]
Rumah sakit
adalah suatu institusi penyelenggara pelayanan kesehatan yang merupakan bagian integral dari sistem
pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan
kuratif maupun preventif serta
menyelenggarakan pelayanan rawat jalan dan rawat inap juga perawatan
di rumah, ini seiring dengan yang
tertuang dalam Undang-Undang nomor 44 tahun
2009 tentang rumah sakit, yaitu
pelayanan kesehatan paripurna adalan
pelayanan kesehatan yang melipti promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif, serta
sebagai pusat rujukan kesehatan masyarakat[3]
Sumber
daya manusia yang dimiliki rumah sakit yang terdiri dari, tenaga medis, keperawatan, kefarmasian, kesehatan
masyarakat, gizi, keterapian fisik dan tenaga
keteknisan ( PP 32 Tenaga Kesehatan, 1996) merupakan sumber daya utama yang tanpanya, aktivitas utama rumah
sakit (pelayanan kesehatan) tidak dapat berjalan.
Tenaga keperawatan merupakan sumber daya manusia yang memiliki kuantitas paling banyak di setiap rumah
sakit dan berperan besar dalam proses pelayanan
kesehatan yang bersentuhan langsung dengan pasien secara kontinu dan sistematik.[4]
Berikut merupakan tugas sekaligus fungsi dari rumah
sakit, yaitu :
1. Melaksanakan pelayanan medis, pelayanan penunjang
medis,
2. Melaksanakan pelayanan medis tambahan, pelayanan
penunjang medis tambahan,
3. Melaksanakan pelayanan kedokteran kehakiman,
4. Melaksanakan pelayanan medis khusus,
5. Melaksanakan pelayanan rujukan kesehatan,
6. Melaksanakan pelayanan kedokteran gigi,
7. Melaksanakan pelayanan kedokteran sosial,
8. Melaksanakan pelayanan penyuluhan kesehatan,
9. Melaksanakan pelayanan rawat jalan atau rawat darurat
dan rawat tinggal (observasi),
10. Melaksanakan pelayanan rawat inap,
11. Melaksanakan pelayanan administratif,
12. Melaksanakan pendidikan para medis,
13. Membantu pendidikan tenaga medis umum,
14. Membantu pendidikan tenaga medis spesialis,
15. Membantu penelitian dan pengembangan kesehatan,
16. Membantu kegiatan penyelidikan epidemiologi,
Tugas dan fungsi ini berhubungan dengan kelas
dan type rumah sakit yang di Indonesia
terdiri dari rumah sakit umum dan rumah sakit khusus, kelas a, b, c, d. berbentuk badan dan sebagai unit pelaksana
teknis daerah. perubahan kelas rumah sakit
dapat saja terjadii sehubungan dengan turunnya kinerja rumah sakit yang ditetapkan oleh menteri kesehatan
indonesia melalui keputusan dirjen yan medik.
Jenis-jenis rumah sakit, diantaranya :
1. Rumah sakit umum
Rumah sakit yang sangat besar sering disebut Medical
Center (pusat kesehatan),
biasanya melayani seluruh pengobatan modern. Sebagian besar rumah sakit di Indonesia juga membuka pelayanan
kesehatan tanpa menginap (rawat jalan) bagi
masyarakat umum (klinik). Biasanya terdapat beberapa klinik/poliklinik di dalam
suatu rumah sakit.
2. Rumah sakit
terspesialisasi
Jenis ini mencakup trauma center, rumah sakit anak, rumah sakit manula, atau rumah sakit yang melayani
kepentingan khusus sepertipsychiatric (psychiatric hospital), penyakit pernapasan, dan lain-lain. Rumah
sakit bisa terdiri atas gabungan atau
pun hanya satu bangunan. Kebanyakan mempunyai
afiliasi dengan universitas atau
pusat riset medis tertentu.
3. Rumah sakit penelitian/pendidikan
Rumah sakit penelitian/pendidikan adalah rumah sakit
umum yang terkait dengan kegiatan penelitian dan pendidikan di fakultas
kedokteran pada suatu universitas/lembaga pendidikan tinggi. Biasanya rumah
sakit ini dipakai untuk pelatihan dokter-dokter muda, uji coba berbagai macam
obat baru atau teknik pengobatan baru. Rumah sakit ini diselenggarakan oleh
pihak universitas/perguruan tinggi
sebagai salah satu wujud pengabdian masyararakat / Tri Dharma perguruan tinggi.
4. Rumah sakit lembaga/perusahaan
Rumah sakit yang didirikan oleh suatu
lembaga/perusahaan untuk melayani
pasien-pasien yang merupakan anggota lembaga tersebut/karyawan perusahaan tersebut. (misalnya rumah sakit
militer, lapangan udara), bentuk jaminan sosial/pengobatan gratis bagi
karyawan, atau karena letak/lokasi perusahaan yang terpencil/jauh dari rumah
sakit umum. Biasanya rumah sakit lembaga/perusahaan di Indonesia juga menerima
pasien umum dan menyediakan ruang
gawat darurat untuk masyarakat umum.
5. Klinik
Fasilitas medis yang lebih kecil yang hanya melayani
keluhan tertentu. Biasanya dijalankan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat atau dokter-dokter yang ingin menjalankan praktek
pribadi. Klinik biasanya hanya menerima rawat jalan. Bentuknya bisa pula berupa
kumpulan klinik yang disebut poliklinik.
2. KARAKTERISTIK WARGA RUMAH SAKIT
a. Perawat
1. Sosial budaya
Berdasarkan
wawancara dengan manajer rawat inap RSUD Ambarawa tahun 2012 masih terdapat perawat yang mempunyai sikap kurang tanggap terhadap pelanggan sehingga dikomplain oleh pelanggan. [5]
Hal ini dikarenakan kurangnya budaya interaksi
yang ramah dan terbuka antara pasien dan perawat, sebagian perawat kurang mendengarkan keluhan pasien, hal ini
dikarenakan perawat
yang terbebani tugas dalam melayani pasien dan hanya fokus terhadap
pekerjaannya dan kurang menjalin
sosialisasi dan komunikasi antara pasien dan keluarga pasien.
Penerapan budaya organisasi di Rumah
Sakit dapat dilihat berdasarkan indikator sikap mendengarkan komplain pasien
dan menyampaikan penjelasan atas komplain yang disampaikan oleh pasien,
merespon ketidakpuasan pasien dan berusaha memberikan pelayanan sesuai dengan
harapan pasien, sikap perawat masih belum semua mengucapkan salam terhadap
pasien, tidak segera memberikan bantuan kepada pasien, tidak berpartisipasi
dalam menjaga kebersihan, tidak sepenuh hati perawat tidak tenang menanggapi
komplain dari pasien. Penerapan budaya organisasi dalam keperawatan yang kuat
didapatkan hanya 52,5%, artinya bahwa secara umum penerapan budaya organisasi
di RSUD Ambarwa menggambarkan keadaan sosial budaya di seluruh rumah sakit
secara umum yang sosial dan budaya organisasi nya masih lemah.
2. Psikologis
Posisi
tenaga keperawatan juga menjadi penting sebagai tangan kanan Dokter yang
menentukan keberhasilan kerja (saran/rujukan/arahan) sang Dokter. Oleh karena
itu perawat dituntut untuk memberi pelayanan dengan mutu yang baik. Untuk itu
dibutuhkan kecekatan dan keterampilan serta kesiagaan setiap saat dari seorang
perawat dalam menangani pasien, kondisi ini akan membuat seorang perawat akan lebih mudah mengalami
stres. Nursalam (2002) mengatakan, beban kerja yang sering dilakukan oleh
perawat bersifat fisik seperti mengangkat pasien, mendorong peralatan
kesehatan, merapikan tempat tidur pasien, mendorong brankart dan yang bersifat
mental yaitu kompleksitas pekerjaan misalnya keterampilan, tanggung jawab
terhadap kesembuhan, mengurus keluarga serta harus menjalin komunikasi dengan
pasien. Pelayanan kesehatan yang kontinu dan sistematik serta peran dan
tuntutan yang banyak inilah yang sering memunculkan kondisi yang dapat memicu
terjadinya stres kerja pada perawat.
Stres dapat ditimbulkan dari semakin banyaknya
tantangan yang dihadapi seperti lingkungan kerja, karakteristik persaingan yang
semakin tinggi, tidak dapat memanfaatkan waktu secara maksimal, faktor-faktor
yang tidak terkontrol, tidak cukupnya ruang untuk bekerja, perkembangan
teknologi informasi yang terus menerus, tuntutan permintaan yang berlebihan
Menurut Persatuan Perawat Nasional
(PPNI, 2006) sebanyak 50,9% perawat Indonesia yang bekerja mengalami stres
kerja, sering merasa pusing, lelah, kurang ramah, kurang istirahat akibat beban
kerja terlalu tinggi serta penghasilan yang tidak memadai. Sementara itu,
Frasser (1997) menjelaskan bahwa 74% perawat mengalami kejadian stres yang mana
sumber utamanya adalah lingkungan kerja yang menuntut kekuatan fisik dan
keterampilan.[6]
3. Ekonomi
Ekonomi
dalam kesehatan menjadi dasar yang tidak dapat terpisahkan, baik dari faktor
individu, lingkungan, keluarga maupun dari keperawatan itu sendiri. Proses keperawatan dikatakan
profesional jika asuhan keperawatan yang di berikan efektif dan efisien. Efektif
berarti asuhan keperawatan dapat menyelesaikan masalah kesehatan klien. Efisien
berarti biaya perawatan klien proporsional dalam arti sesuai kebutuhan
klien akan pelayanan kesehatan, sebagian Para perawat akan memberikan pelayanan yang
optimal jika sebanding dengan upah yang didapatkannya.
4. Spiritual
Agama
Perawat berupaya untuk
membantu memenuhi kebutuhan spiritual pasien sebagai bagian dari kebutuhan
menyeluruh pasien, antara lain dgn memfasilitasi pemenuhan kebutuhan spiritual pasien
tsb, walaupun perawat dan pasien mempunyai keyakinan spiritual atau keagamaan
yg berbeda.
b. Pasien dan
keluarga pasien
1.
Sosial budaya
Pasien
di rumah sakit terdiri dari berbagai latar kehidupan sosial dan budaya yang
berbeda, inilah yang menyebab kan perbedaan persepsi pada pelayanan kesehatan
yang didapatkan oleh para pasien.
Kebudayaan
di Indonesia, beranggapan bahwa menjadi pasien adalah hal yang tidak
mengenakkan, karena harus mengeluarkan biaya mahal, bahkan mendapat bantuan pun
masih mengeluarkan biaya, karena bantuan yang diberikan tidak 100% meringankan
beban pasien. Sedangkan Kebudayaan Orang
luar negeri yang beranggapan bahwa menjadi pasien adalah: 1.Sebagai hal yang
mengenakkan, karena sambil dirawat ia dapat makan teratur, sebagai tempat
rekreasi, dan biaya dibayar oleh asuransi. 2.
Persepsi tentang sehat dan sakit
yang dapat dikontrol oleh perawat jika ia dirawat di rumah sakit. [7]
Dari
segi sosialnya para pasien dan keluarganya di indonesia kurang mendapatkan keramahan, karena faktor-faktor yang telah dibahas
diatas, kurangnya sosialisasi antara pasien, keluarga pasien dengan tenaga
medis, padahal pasien dan keluarganya memiliki hak untuk di perhatikan dan
dilayani dengan keramahan. Pasien dg
peran sosial nyata, adalah sebagai tamu yang menjadi tergantung pada staf medis
untuk kehidupannya, Pasien
adalah asing bagi komunitas RS, tidak biasa dg struktur, prosedur, dan istilah
RS, sehingga kondisi ini sering membuat seseorang merasa tidak mudah dalam
situasi yg mengecewakan.
Sebagai
keluarga pasien harus bisa menyesuikan dirinya dengan peraturan dan tata cara
pelayanan yang telah dibuat oleh rumah sakit itu sendiri, terkadang hal ini
menjadi kendala dalam kepengurusan administrasi, ketika keluarga pasien belum
memahami sosial dan budaya yang diterapkan oleh rumah sakit tersebut.
Disamping
itu keluarga pasien juga berhak mendapatkan pelayanan dengan budaya yang ramah
dari pihak rumah sakit. Interaksi dan komunikasi yang baik antara pihak rumah
sakit dengan keluarga pasien akan menumbuhkan kepercayaan keluarga pasien
terhadap pihak rumah sakit.
2.
Psikologis
Pasien
dan keluarga pasien mengharapkan pelayanan rumah sakit sesuai dengan penyakit
yang dideritanya. Kondisi ini akan diperparah jika pasien dan keluarganya
kurang mendapatakan pelayanan yang ramah, informasi yang kurang jelas, arah
perawatan yang tidak jelas (grey area), sehingga pasien dan keluarga
juga akan mengalami stres. [8]Kondisi
psikologis ini sangat dirasakan bagi orang sakit dan keluarganya bila mereka
tidak mendapatkan konselor yang mampu memberikan informasi sesuai kondisi
psikologis yang dialaminya, pasien dan keluarganya akan mengalami katarsis yang
akan memperburuk kondisi pasien [9]
Pasien
bukan saja menderita kerugian sakit fisik, tapi juga di bawah tekanan
psikologis yang besar. Sebagian besar orang yang sedang sakit akan
mengalami timbulnya goncangan mental dan jiwanya srta kecemasan karena penyakit yang dideritanya. Suatu
penelitian di barat mengungkap bahwa penyebab sakit 70% adalah masalah
psikologis. Ini menunjukkan bahwa sakit fisik mempunyai hubungan yang sangat
erat dengan psikologis pasien. Kondisi ini
akan lebih berat jika pasien tidak mendapat dukungan dari keluarga.
Stres pada keluarga pasien umumnya juga disebabkan karena kecemasan dan
ketidaktahuan tentang kondisi penyakit yang diderita oleh anggota keluarganya, Saat seseorang anggota keluarganya masuk rumah sakit, bukan hanya
pasien yang merasa tertekan, tapi juga seluruh anggota keluarga. Untuk itu,
pihak keluarga juga harus mendapat informasi yang benar seputar penyakit yang
diderita oleh pasien.
Dukungan psikologi yang baik
dari pihak keluarga dan tenaga medis, akan mempercepat sembuhnya penyakit si
pasien. Pasien juga merasa nyaman, dia merasa
didukung dan itu bagus untuk masa penyembuhan. Kalau pasien diperlakukan dengan
cuek, pasti pasien stress setiap hari merasa tidak betah dan efeknya membuat
penyakit tak kunjung sembuh.
3.
Ekonomi
Pasien
dan keluarganya yang ada dirumah sakit juga terdiri dari berbagai tingkat
ekonomi, mulai dari kelas ekonomi yang paling bawah, menengah hingga menengah
keatas. Pelayanan kesehatan tergantung pada tingkat ekonomi pasien, perbedaan
pelayanan rumah sakit dapat dilihat dari jenis asuransi kesehatan yang
digunakan oleh pasien, pelayanan terhadap pasien umum biasanya berbeda dengan
pelayanan kepada pasien yang menggunakn asuransi seperti jamsostek, BPJS, dll. Pasien
umum lebih diutamakan, dan pelayanan pada keluarga pasien umum pun lebih ramah.
mereka dilayani lebih ramah dan lebih ekstra dibandingkan dengan pasien yang
menggunakan jasa asuransi kesehatan. Ini sudah menjadi rahasia umum jika hal
yang demikian itu terjadi pada diri pasien dan keluarganya. Permasalahan
ekonomi yang seperti ini juga akan berpengaruh pada psikologis pasien dan
keluarganya serta berdampak pada tingkat kesembuhan pasien.[10]
4.
Agama
Apabila
seseorang dalam keadaan sakit, maka hubungan dengan Tuhannya pun semakin dekat,
dan ada juga pasien atau keluarganya yang merasa bahwa penyakit yang dideritanya
adalah karena ketidak-adilan tuhan terhadap dirinya atau pada anggota
keluarganya, hingga ia jauh dari tuhannya. Mengingat seseorang dalam kondisi
sakit menjadi lemah dalam segala hal, tidak ada yang mampu membangkitkannya
dari kesembuhan, kecuali Sang Pencipta.
Pasien
dan keluarganya memiliki hak untuk menjalankan ibadhnya sesuai dengan kepercayaan
yang dianutnya pada saat ia berada dirumah sakit. Pasien dan keluarganya dirumah
sakit membutuhkan bimbingan spiritual keagamaan, dan ternyata berdampak kepada
peningkatan kesembuhan dan motivasi pasien, bagi keluarga pasien ketenangan dan
kesejukan hati dengan dorongan dan motivasi untuk tetap bersabar,
bertawakkal dan senantiasa menjalankan kewajibannya sebagai
hamba Allah.[11]
3.
MASALAH UTAMA DALAM INSTITUSI RUMAH SAKIT
Masalah
manajemen atau pelayanan di rumah sakit pada akhir-akhir ini memang banyak menjadi bahan pembahasan
baik di lingkungan masyarakat. Terutama pelayanan
administrasi terhadap pasien yang menggunakan program layanan kesehatan gratis atau layanan kesehatan dari
pemerintah seperti Jamkesmas, Askes, maupun Jamkesda.
Sering sekali masyarakat yang menggunakan fasilitas ini mengalami kesulitan dalam memenuhi berbagai persyaratan
agar dapat memperoleh layanan kesehatan yang diinginkan.
Perbedaan
pelayanan kesehatan bagi pasien dan keluarga pasien menjadi maslah utama di institusi rumah sakit, pihak rumah
sakit sering kali membedakan pelayanan kesehatan
terhadap pasiennya, hal ini menimbulkan masalah baru bagi pasien dan keluarga pasien, yaitu rasa ketidak puasan
dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, hak pasien
dankeluarganya seringkali terabaikan meskipun mereka telah menjalankan kewajibannya. Masalah lain yang
timbul adalah kecemasan dan ketidak nyaman pasien dan keluarga pasien saat mendapatkan pelayanan kesehatan, yang
berdampak pada psikologis pasien
dan keluarganya.
C. PENUTUP
1. Kesimpulan
Rumah
sakit merupakan suatu instansi yang berfungsi memberikan pelayanan bagi orang
sakit dan keluarganya. Rumah Sakit merupakan
sebuah institusi perawatan kesehatan profesional yang pelayanan nya disediakan oleh dokter, perawat, dan tenaga ahli
kesehatan lainnya, termasuk tenaga
konselor.
Lingkungan
Rumah sakit juga tidak terlepas berbagai pemasalahan yang memerlukan
penyelesaian dalam pengentasan dari jasa seorang konselor, Mulai dari malah
pelayanan administrasi, informasi, hingga masalah kondisi psikologis, dan
spiritual pasien dankeluarganya yang membutuhkan Bimbingan Konseling.
2. Saran
Penulis menyadari bahwa
makalah yang saya buat ini jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saya sebagai
penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi kesempurnaan
makalah ini.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Amril, (2001) Studi Kebutuhan Layanan
Informasi bagi Pasien akan di Operasi di
RSUD Pariaman, skripsi
, Padang :FIP UNP
Anitawidanti, Hafni. (2010) Skripsi:
Analisis Hubungan Antara Stres Kerja dengan Kepuasan
Kerja Karyawan Berrdasarkan Gender:Studi Pada PT Trasindo Surya Sarana. Semarang : Universitas
Diponegoro.
http://eprints.undip.ac.id/22995/1/skripsistreskerjavskepuasankerja.pdf
http://www.slideshare.net/FitriaAnwarawati/penerapan-sosial-budaya-dalam-rumah-sakit
http://www.kompasiana.com
Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 1, No. 1,
Mei 2013; 7-14
Muhiman muhardi, (1989), Anestesiologi,
Jakarta : bagian Anestesiologi dan Terapi intensif FKUI
PP 32 Tenaga Kesehatan, 1996
Prayitno dan Erman Amti.(1994) Dasar-Dasar
Bimbingan dan Konseling, Jakarta;
Dirjen Dikti Depdikbud
Salim. Samsudin,(2005) Bimbingan Rohani Pasien Upaya Mensinergisitaskan
Layanan Medis
dan
Spiritual di Rumah Sakit, Semarang
Undang-Undang nomor 44 tahun
2009
[1] Prayitno
dan Erman Amti. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.1994, Jakarta; Dirjen Dikti Depdikbud, hal. 251
[2] http://rsud.cianjurkab.go.id/?page_id=65
[4] PP 32
Tenaga Kesehatan, 1996
[6] Anitawidanti,
Hafni. (2010) Skripsi: Analisis Hubungan Antara Stres Kerja dengan Kepuasan
Kerja Karyawan Berrdasarkan Gender:Studi Pada PT Trasindo Surya Sarana. Semarang
: Universitas Diponegoro. http://eprints.undip.ac.id/22995/1/skripsistreskerjavskepuasankerja.pdf
Diakses 28 Februari 2009 pukul 22:38 WITA
[7] http://www.slideshare.net/FitriaAnwarawati/penerapan-sosial-budaya-dalam-rumah-sakit
[8]
Amril, Studi Kebutuhan Layanan Informasi bagi Pasien akan di Operasi di RSUD Pariaman, skripsi
, 2001 Padang :FIP UNP, , hal
1
[9] Muhiman
muhardi, Anestesiologi, Jakarta : bagian Anestesiologi dan Terapi
intensif FKUI, 1989. Hal 34
[10]
http://www.kompasiana.com
[11] Salim. Samsudin,. Bimbingan Rohani Pasien Upaya Mensinergisitaskan Layanan
Medis dan Spiritual di Rumah Sakit, Semarang: 2005. Hlm. 1.